Dipatok Ayam


 Sarju beberapa hari ini tidak pergi ke sawah. Entahlah dia hanya berdiam diri di rumah. Tidak juga berjamaah di masjid, saat Maghrib, Isya, dan Subuh. Pak Rondi temannya datang ke rumahnya. Dia ingin melihat kawan karibnya menghisap cerutu seusai bekerja di sawah. Mereka pasti duduk-duduk di dam sambil bercerita tentang banyak hal hingga petang. 

"Kang, kenapa tidak ke sawah, sedang sakit ya?" tanya Pak Rondi sambil duduk berhadapan  di bangku kayu. 

"Tidak Kang, ya ingin istirahat saja capek kang kerja terus." jawab Pak Sarju sambil menghisap cerutu klobot dalam-dalam dan menghembuskannya. Keduanya lalu hanyut dalam cerita "ngalor ngidul" seperti biasanya. Hilang rindunya dengan sahabatnya Pak Rondi pamit pulang. Sementara Pak Sarju tetap di tempatnya sambil tersenyum. 

Pagi itu Pak Sarju ke belakang rumahnya. Dia bermaksud memberi makan sapi-sapinya. Ada lima sapi di kandangnya. Memang Pak Sarju termasuk petani yang mapan hidupnya. Selain sapi banyak juga ayam peliharaan Pak Sarju. Saat memberi makan sapi, tiba-tiba sapinya buang air. Sontak Pak Sarju menaikan sarungnya. Sesaat kemudian terdengar teriakan yang sangat keras. 

" Waduh, aduh, aduh! " 

Sontak seluruh tetangga datang menuju arah suara. Darah berceceran Pak Sarju menangis kesakitan. Dari situlah para tetangga tahu bahwa Pak Sarju tinggal di rumah karena pantatnya berbisul. Bisulnya dipatok ayam, makanya dia hanya di rumah saja. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Praktisi Mengajar

Liburan Ala Anpon