Liburan Ala Anpon


 Libur tlah tiba

Hore-hore senangnya

Sepenggal lagu yang selalu dinyanyikan anak-anak menjelang liburan. Tampak raut muka bahagia mereka. Sebagai guru dalam hati saya bertanya-tanya, "Benarkah sekolah itu menyiksa dan membosankan? " Sehingga jika liburan tiba mereka begitu bahagia. Saya segera menepis pemikiran itu. Mereka senang karena bebas melakukan kegiatan apapun. Mereka bisa jalan-jalan dengan keluarga  dan bermain dengan puas  bersama teman-temannya saat liburan. Itulah yang membuat mereka senang dan bersemangat saat liburan. 

Liburan anak-anak pondok lebih menyenangkan lagi. Mereka seperti burung lepas dari sangkar. Saat di pondok mereka disterilkan dari dunia luar.  Hal ini agar mereka fokus belajar dan mendalami Al Qur'an. Memang kehidupan di pesantren adalah pilihan terbaik menurut pendapat saya. Anak-anak jauh dari orangtua, dan segala hiruk pikuk dunia yang serasa semakin tidak menentu. Tapi orangtua harus selektif memilih pesantren. Jangan asal ikut-ikutan, cari yang berlatar belakang tepat dengan pemahaman yang diyakini. Terpenting ajak anak berdiskusi. Berikan mereka ruang untuk menentukan tempat yang sesuai dengan yang diimpikan. Agar seiring sejalan menuju kesuksesan dalam keshalihan. 

Oh ya, kok jadi ngelantur ceritanya. Kembali pada liburan anak pondok. Ada hal lucu, semua baju dan barang bawaan diboyong pulang. termasuk pakaian kotor yang segunung. Ah, rasanya kalau pulang kayak tidak mau balik pondok lagi. Lagi-lagi orangtua harus memiliki kesadaran. Ketika anak di pondok, orangtua juga harus ikut mondok. Artinya tidak harus kemauan anak dituruti, cari yang terbaik dan relevan saja. Jangan lupa banyak berdoa, agar anaknya mau dengan ikhlas balik ke pondok lagi. Mereka harus menyelesaikan tugas belajar hingga tuntas. 

Alhamdulillah, pembelajaran di pondok masih membekas. Rajin ibadah, lebih sopan, semakin hemat dan pandai mengatur keuangan. Liburan dua minggu begitu singkat. Mereka habiskan waktu mengunjungi teman-teman, bermain bersama, dan nongkrong di depan game yang mereka rindukan. Ya, memang mereka masih anak-anak. Biarlah mereka sejenak melepas rindu dengan dunia luar. Ajak jalan-jalan, makan, ngobrol, dan bersosialisasi dengan lingkungan. Agar kelak mereka tahu bahwa orangtuanya rela membiayai karena semata-mata ingin anaknya kelak menjadi yang terbaik di dunia dan diakhirat. 

Terimakasih anak shalihku AR-Raghib Achmad Al-Ashfahani, semoga Allah memudahkanmu menjemput ilmu dalam keshalihan.

Tuban, 22 JANUARI 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Praktisi Mengajar