Perjalanan dan Kematian

 


Setiap orang mengalami perjalanan dalam hidup. Hal ini karena hidup ini sejatinya memang merupakan perjalanan. Perjalanan menuju alam selanjutnya. Kodrat manusia di alam rahim, alam dunia, alam barzah dan alam sesungguhnya yaitu alam akhirat. Agar akhirat kita baik maka, selama hidup di dunia ini perbanyak mencari bekal untuk akhirat dan mengingat masih ada dua alam yang harus dipersiapkan. Cara menyiapkan setiap orang berbeda-beda. Bagi kami bersafar merupakan hal yang dapat menambah keimanan dan bekal di akhirat kelak. Jika berbeda pendapat dengan kami boleh dan sah saja. 

Perjalanan kami mulai dari Surabaya, naik pesawat Lion Air yang membawa kami 3 jam sampai di Tarakan. Kota kecil di utara pulau Kalimantan. Tentu hiruk pikuk kota ini jauh dari kota asal kami. Ya, kalau dibandingkan ramainya orang hanya sama dengan kota kecamatan. Namun, bangunan- bangunan layaknya di kabupaten. Kami mengunjungi tempat kerja, bersilaturahmi dengan relasi, dan menjalin keakraban. Selama berpuluh tahun mereka menghasilkan pundi-pundi penghasilan bagi kami. Kami hanya bertemu dan bersapa lewat telepon. 

Alhamdulillah, mereka sangat senang sekali. Semua menaruh hormat karena selama ini telah dibantu mengurus barang dagangannya dengan baik. Kami dijamu layaknya tamu agung.  Dijemput, diantar jalan-jalan, ditraktir makan, dan pulangnya dibawakan oleh-oleh. Semua keperluan kami diurus. Tiket perjalanan ke Tawau, Nunukan, dan kembali ke Tarakan. Seperti pagi ini, kami sudah dijemput di hotel, dan disiapkan tiket untuk pulang. 

Oh ya, ada pengalaman pertama dan menarik perjalanan kami. Kami berangkat pada hari Minggu, 28 April 2024 pukul 17.30. Pesawat mengalami keterlambatan 30 menit dari jadwal karena hal-hal teknis. Tiba di Tarakan pukul 20.00 karena perbedaan waktu 1 jam dari Surabaya. Pagi hari kami ke Tawau Malaysia dengan naik KM Purnama. Perjalanan yang sangat melelahkan. Ini mengingatkan saya 30 tahun lalu ketika naik tugboat menuju Papua. Mabuk laut sampai habis isi perut. Sisa kuning dan pahit pun keluar. Rasanya ingin segera sampai tempat tujuan. Sesampainya di Pelabuhan Tawau yang cukup ramai di Negri bagian Sabah negara Malaysia. Negri yang berbeda dengan kami. Di Tawau kendaraan tidak ada saling mendahului, antre teratur. Pengemudi sangat sabar, parkir pun mereka pada tempatnya. Ini membuat kecelakaan lalu lintas jarang terjadi. Kami singgah di pasar Subindo, makanan muslim yang kami pilih. Ada menu Arabian, yang kami sukai roti canai dengan kuah kari yang sedap. Ini mengingatkan pada 2 jagoan kami yang suka kuliner. Abi juga sangat bahagia, bisa berjumpa sahabat yang 20 tahun tidak bertemu. Kami bisa menjalin silaturahmi kembali. 

Tiba saat kami harus kembali. Penumpang ramai sekali. Barang-barsng yang mereka bawa banyak sekali. Mereka rata-rata pedagang yang berbelanja di Tawau untuk dijual kembali. Kapal penuh dan kami harus antre pemeriksaan paspor. Antre keluar kapal yang membuat perjalanan terasa begitu lelah. Namun, sambil antre berdiri saya semakin paham arti hidup yang sesungguhnya. Ini di dunia, ya antre sedikit saja. Apalagi nanti antre di padang mahsyar. Sudahkah saya punya bekal? Bisakah saya antre dengan nyaman seperti saat ini? Alhamdulillah, masih sehat, bisa bersafar memaknai hidup. Namun, dari sinilah saya belajar, belajar, dan terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Syukur atas nikmat Allah, sehat dan sempat melakukan perjalanan. Bismillahirrahmanirrahim, mohon do'anya kami kembali berlayar dengan kapal Paola 1 ekspres dari Nunukan menuju Tarakan dan kembali terbang ke Surabaya. 


Pelabuhan Nunukan, 1 Mei 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Praktisi Mengajar

Liburan Ala Anpon